EMDR Indonesia is a professional association of therapists committed to the highest standards of research and practise for the clinical use of EMDR.
 
EMDR - FAQ PDF

(Disalin dari website EMDRIA dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Shinto B. Adelar)

1.    What is EMDR?

Eye movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) adalah salah satu bentuk psikoterapi yang pada awalnya dirancang untuk menghilangkan distress yang berkaitan dengan adanya pengalaman atau ingatan traumatik (Shapiro, 1989a, 1989b).  Melalui model Adaptive Information Processing (Shapiro, 2001) dinyatakan bahwa EMDR memperlancar akses ke dalam ingatan traumatik dan pemrosesannya untuk mencapai pemecahan yang adaptif.  Terapi EMDR yang berhasil akan berakhir dengan hilangnya distress afektif, adanya perumusan baru keyakinan (beliefs) yang sebelumnya negatif dan meredanya bangkitan (arousal) fisiologis.

Ketika menjalani terapi EMDR, klien memusatkan perhatian pada hal-hal yang mengganggu emosinya dalam jangka waktu yang singkat sambil sekaligus memperhatikan stimulus eksternal.  Stimulus eksternal yang paling sering digunakan adalah gerakan jari tangan yang harus diikuti oleh gerakan bola mata klien, namun berbagai jenis stimulus eksternal lain seperti sentuhan-tangan (tapping) atau suara juga sering digunakan (Shapiro, 1991).

Shapiro (1995) mengemukakan hipotesa bahwa EMDR memperlancar akses ke dalam jejaring ingatan traumatik, sehingga pemrosesan informasi meningkat. Pemrosesan menjadi lebih lancar dengan dibangunnya asosiasi antara ingatan traumatik dan ingatan atau informasi lain yang lebih adaptif.  Asosiasi atau hubungan baru ini diyakini akan menghasilkan pemrosesan informasi yang sempurna, hasil belajar baru dan berkembangnya pemahaman kognitif mengenai ingatan traumatik.

Dengan menggunakan protokol tiga-jalur (3-prong) EMDR memroses:

    Peristiwa masa lalu yang menyebabkan disfungsi: membangun asosiasi, hubungan baru dengan informasi yang adaptif.
    Situasi masa kini yang menimbulkan distress: pemicu internal maupun eksternal didesensitisasi.
    Masa depan: menumbuhkan atau menanamkan Template bayangan mengenai peristiwa di masa mendatang untuk membantu klien agar memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk dapat berfungsi adaptif di kemudian hari.


2.    What is the theoretical basis for EMDR?

Pada awalnya Shapiro (1995) mengajukan model Accelerated Information Processing untuk menjelaskan dan memprakirakan dampak EMDR.  Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi Adaptive Information Processing (AIP) dengan tujuan untuk memperluas jangkauan penerapannya (Shapiro, 2001).

Gagasan tersebut didasari oleh hipotesis bahwa manusia secara inheren dibekali sistem pemrosesan informasi yang dalam keadaan normal (secara alamiah) bertugas memroses elemen-elemen pengalaman manusia sehingga tercapai keadaan adaptif.  Shapiro membayangkan bahwa ingatan disimpan dalam jejaring-jejaring yang saling terhubung satu sama lain dan tersusun seputar kejadian-jauh-di-masa-lalu dan efek yang berkaitan dengan kejadian tersebut.  Jejaring-jejaring ingatan tersebut berisi pikiran, gambar, emosi dan sensasi yang berkaitan.

Hipotesis model AIP adalah apabila informasi yang terkait dengan pengalaman traumatik tidak diproses sepenuhnya, maka persepsi, emosi dan pikiran awal yang terdistorsi akan disimpan tepat seperti yang dialami pada saat kejadian  traumatik berlangsung.  Menurut Shapiro pengalaman yang tidak terproses tersebut menjadi dasar bagi munculnya reaksi disfungsional di masa kini dan merupakan penyebab berbagai gangguan mental.

EMDR berhasil menghilangkan gangguan mental dengan memroses komponen ingatan traumatik penyebab distress.  Efek tersebut terjadi ketika ingatan yang menjadi target terapi dikaitkan dengan informasi lain yang lebih adaptif.  Ketika hal tersebut terjadi, maka berlangsunglah proses belajar. Pengalaman atau informasi yang tersimpan bersama emosi yang lebih sesuai itu dapat mengarahkan individu secara positif di kemudian hari.


3.    Is EMDR a one-session cure?

Tidak.  Ketika Shapiro (1989a) pertama kali memperkenalkan EMDR dalam literatur profesional, ia menuliskan catatan peringatan sebagai berikut ini:

… must be emphasized that the EMDR procedure, as presented here, serves to desensitize the anxiety related to traumatic memories, not to eliminate all PTSD-symptomatology and complications, nor to provide coping strategies to victims (p 221).
(… perlu diperhatikan bahwa prosedur EMDR, yang dikemukakan disini, berfungsi untuk mengurangi kepekaan terhadap kecemasan yang berkaitan dengan ingatan traumatik, bukan untuk melenyapkan semua gejala PTSD dan komplikasinya atau pun membekali korban dengan strategi coping).

Perlu diketahui bahwa studi pertama tersebut berfokus pada satu ingatan traumatik, dan efek terapi diukur melalui perubahan besaran Subjective Units of Disturbance (SUD). Kemudian EMDR berkembang menjadi suatu pendekatan integratif yang memperhatikan gambaran-klinis-lengkap orang yang diterapi.  Penelitian  menunjukkan bahwa setelah menjalani 4 - 7 sesi terapi EMDR diagnosis PTSD (posttraumatic stress disorder) pada 83-90% penderita (dari kalangan non-militer) berhasil digugurkan (Lee, Gavriel, Drummond, Richards & Greenwald, 2002; Rothbaum, 1997).

Penelitian lain (misalnya: Ironson, Freund, Strauss, & Williams, 2002; Scheck, Schaeffer, & Gillette, 1998; S. A. Wilson, Becker, & Tinker, 1995) menunjukkan bahwa setelah penderita PTSD menjalani 3-4 sesi terapi terlihat adanya pengurangan bermacam-macam gejala PTSD  Satu-satunya penelitian (Carlson, Chemtob, Rusnak, Hedlund & Muraoka, 1998) terhadap veteran perang yang mengalami trauma ganda melaporkan bahwa 12 sesi terapi berhasil melenyapkan 77% PTSD.

Untuk penderita trauma ganda dan/atau memiliki riwayat buruk tindak kekerasan, penelantaran dan attachment yang buruk kemungkinan dibutuhkan terapi yang lebih ekstensif, dan fase persiapan (fase kedua pada protokol EMDR) yang lebih panjang (Kom & Leeds, 2002; Maxfield & Hyer, 2002; Shapiro, 2001).


4.  Apakah EMDR merupakan terapi yang manjur atau efektif untuk PTSD?

Ya.  EMDR adalah treatment psikoterapeutik untuk PTSD yang paling banyak diteliti.  Sampai tahun 2005, minimal terdapat 20 penelitian terkontrol mengenai efek atau hasil terapi EMDR untuk PTSD.  16 di antaranya sudah dipublikasikan dan hasil awal dari 4 penelitian lainnya sudah dipresentasikan dalam konferensi.  Penelitian dengan kelompok control ‘waitlist’ (daftar tunggu) menemukan bahwa EMDR lebih unggul.  Ada 6 penelitian yang membandingkan EMDR dengan treatment semacam relaksasi biofeedback (Carlson et al., 1998), active listening (Scheck et al., 1998), perawatan standar (terapi kelompok) di RS veteran (Boudewyns & Hyer, 1996), dan perawatan standar lain (berbagai jenis terapi individual) di fasilitas Kaiser HMO  (Marcus, Marquis & Sakai, 1997). Semua penelitian tersebut menemukan bahwa hasil pengukuran posttraumatic stress pada kelompok EMDR jauh lebih baik daripada pada kelompok kontrol.  

Terdapat tujuh penelitian dengan teknik random untuk membandingkan hasil EMDR dengan exposure therapies (Ironson dkk., 2002; McFarlane, 2002; Rothbaum, 2001; Thordarson dkk., Vaughan dkk., 1994) dan terapi kognitif plus exposure (Lee dkk., 2002; Power dkk., 2002).  Ditemukan bahwa hasil pada kelompok EMDR dan kelompok kontrol dengan terapi cognitive-behavioral (CBT) relatif setara.  Dua penelitian menunjukkan bahwa terapi EMDR lebih berhasil baik pada pengukuran gejala intrusive PTSD, sedangkan pada penelitian Taylor dan rekan (Taylor, Thordarson, & Maxfield, 2002) CBT ditemukan unggul pada gejala intrusion dan avoidance dari PTSD.  Dua penelitian terkontrol tetapi tanpa randomisasi, menunjukkan bahwa CBT lebih unggul daripada EMDR (Devilly & Spence, 1999) sedangkan penelitian Sprang (2001) menunjukkan bahwa EMDR lebih efektif daripada CBT untuk gejala intrusive, avoidance dan hyperarousal..

Terdapat dua penelitian yang menemukan bahwa EMDR lebih efisien daripada CBT yaitu bahwa EMDR dapat mencapai dampak positif yang nyata hanya dengan jumlah sesi terapi yang lebih sedikit (Ironson dkk., 2002; Poer dkk., 2002).  Pada penelitian terhadap respons-pada-setiap-sesi (session-by-session basis) (Thordarson dkk., 2001) dan pada mid-point (Rothbaum, 2001) ditemukan bahwa EMDR tidak menghasilkan efek treatment yang lebih cepat daripada terapi exposure.  Namun perlu dicatat bahwa sesi terapi exposure (yang diteliti tersebut) ditambahi dengan tugas (Pekerjaan Rumah) satu jam setiap hari yang harus dikerjakan oleh penderita.  EMDR dapat mencapai dampak terapeutik yang sama tanpa pengerjaan PR oleh penderita. Kebanyakan penelitian mengenai dampak PR menemukan bahwa karena EMDR hanya membutuhkan PR yang amat sedikit, maka waktu treatment secara keseluruhan jauh lebih pendek (misalnya: Ironson dkk., 2002, Lee dkk., 2002; Vaughan dkk, 1994).  Efek terapi EMDR pada umumnya dapat bertahan (lihat uraian pada bagian sesudah ini).  

Efektifitas EMDR untuk menangani PTSD saat ini sudah amat diakui.  Pada tahun 1998, beberapa reviewer independen (Chambless dkk., 1998) yang bekerja untuk APA Division of Clinical Psychology telah menyejajarkan EMDR, exposure therapy dan stress inoculation therapy dalam daftar terapi yang didukung data empiris (empirically based), dalam kategori “probably efficacious” karena tidak ada terapi lain untuk segala bentuk PTSD yang didukung oleh riset empiris dengan kelompok kontrol.

Pada tahun 2000, setelah dilakukan penelaahan terhadap lebih banyak publikasi hasil studi terkontrol, EMDR diberi nilai A/B dalam panduan treatment yang diterbitkan the International Society for Traumatic Stress Studies (Chemtob, Tolin van der Kolk, & Pitman, 2000) dan diakui efektif untuk PTSD.  The United Kingdom Department of Health (2001) juga memasukkan EMDR dalam daftar terapi yang efektif untuk PTSD.  Foa, Riggs, Massie, and Yarczower (1995) mengemukakan bahwa exposure therapy mungkin tidak begitu efektif untuk klien yang memiliki afek dominan berupa rasa marah, rasa besalah atau malu.  Para klinisi yang menangani veteran perang (Lipke, 1999, Silver & Rogers, 2002)  menunjukkan bahwa EMDR efektif bagi penderita PTSD yang memiliki gejala afek seperti tersebut di atas.  Suatu studi awal menemukan bahwa EMDR berhasil mengurangi gejala rasa bersalah pada penderita PTSD akibat peperangan (Cerone, 2000).  Taylor dkk. (2002) menemukan efek yang setara dan signifikan dari exposure therapy maupun EMDR dalam hal mengurangi gejala rasa marah dan rasa bersalah.


5. Apakah efek terapi EMDR dapat bertahan atau menetap?

Terdapat dua belas studi pada poplulasi PTSD untuk mengukur bertahannya efek treatment.  Analisis dilakukan terhadap perbedaan antara hasil pengukuran segera sesudah treatment dan hasil pengukuran pada follow-up.  Pengukuran follow-up dilakukan dalam rentang waktu yang bervariasi antara 3, 4, 9, 15 bulan, dan 5 tahun setelah treatment dihentikan.  Delapan dari sembilan studi dengan klien sipil menemukan bahwa efek treatment dapat bertahan sampai waktu pengukuran follow up. Carlson dkk,(1998) menemukan bahwa efek treatment maksimal 12 sesi terapi dapat tetap bertahan 9 bulan setelah terapi selesai.

Dalam dua studi terhadap treatment minimal (Pitman dkk., 1996) yaitu terapi EMDR yang hanya menangani dua ingatan traumatik saja, ditemukan  bahwa efek terapi tidak bertahan ketika dilakukan follow-up 5 tahun setelah terapi.

 
Next >